Artikel yang ada di halaman ini hanya cuplikan. Untuk membaca lebih lanjut, silakan klik pada judul artikel. Terima kasih.

Senin, 19 Maret 2012

Cara Menjalankan Kereta Api


Tentu kita sering bertanya-tanya, bagaimana cara menjalankan sebuah kereta atau lokomotif? Apakah pengoperasiannya sulit? Tentu saja tidak mudah. Perlu keahlian khusus agar kereta api tidak melenceng dari jalur alias anjlok terutama pada tikungan tajam. Namun, sebenarnya untuk menghindari hal itu cukup dilakukan dengan mengurangi kecepatan kereta yang kita kendarai.

Dasar-dasar pengoperasian kereta api tidaklah sulit. Hampir sama dengan mobil, kereta api dilengkapi dengan reverser (disebut juga persneling dalam istilah otomotif), throttle, dan rem. Khusus rem terbagi tiga, yaitu train brake, locomotive brake (opsional), dan dynamic brake (opsional).
Nah, sekarang saya akan menjelaskan cara menjalankan kereta api yang tenaganya terbagi menjadi tiga jenis, yaitu listrik, diesel, dan uap.
Tenaga listrik
Foto Kabin KRL TM 7000
Kereta api jenis ini memiliki komponen-komponen untuk mengatur listrik yang masuk melalui kabel LAA (Listrik Aliran Atas) atau rel ketiga. Namun, kali ini saya hanya akan menjelaskan cara menjalankan kereta api dengan komponen LAA.
Untuk mencapai kabel LAA diperlukan lengan peraih yang disebut pantograf. Pantograf sendiri diatur melalui kabin masinis. Agar pantograf bisa turun sesuai keinginan, maka dalam kabin masinis terdapat tombol Panto-down (ditandai dengan warna hitam pada foto).
Saat kereta listrik dimatikan, maka pantograf otomatis turun. Agar kereta menjadi hidup dan siap dijalankan, pantograf harus dinaikkan dengan tenaga air compressed. Setelah pantograf naik, kereta siap dijalankan.
Setelah pantograf naik, maka hal selanjutnya yang harus dilakukan adalah menggerakkan reverser (ditandai dengan warna merah pada foto). Agar kereta api bisa maju, reverser digerakkan ke arah depan (forward). Sebaliknya, jika ingin kereta mundur cukup tarik ke belakang (reverse). Namun, untuk menghindari kejadian yang tidak diinginkan, maka antara forward dan reverse disisipkan posisi idle yang disebut juga neutral.
Setelah reverser sudah dimajukan ke arah yang diinginkan, maka hal selanjutnya yang harus dilakukan adalah melepas semua rem. Baik itu train brake maupun locomotive brake (ditandai dengan warna oranye pada foto). Jika train brake dan locomotive brake sudah dilepas (released), maka akan terdengar bunyi kompresor yang menandakan silinder rem habis (hampa) dan akan diisi kembali. Kereta tidak akan berjalan jika silinder rem belum penuh.
Foto Kabin dari Shinkansen E5
Jika  kompresor sudah mati, maka kita siap untuk menjalankan throttle (ditandai dengan warna biru pada foto). Sebaiknya jalankan throttle sedikit demi sedikit, agar tidak ada hentakan dan roda tidak selip. Jika roda mengalam selip, otomatis daya cengkeram hilang.
Dalam shinkansen dan beberapa kereta lainnya, throttle dan brake dikombinasikan menjadi combined power handle (ditandai dengan warna hijau pada foto). Fungsi cph ini hanya untuk menghindari aus pada sepatu rem karena masinis yang kadang lupa untuk melepas train brake. Dalam posisi idle, cph berada di tengah-tengah. Jika ingin mengerem, cukup dorong ke depan. Jika ingin menjalankan kereta apinya, maka tariklah. Biasanya cph ini dibuat notched atau beruas-ruas agar tak ada kesalahan dalam mengerem atau menjalankan KA.
Tenaga diesel
Foto Kabin KRD MCW 302
Pada dasarnya, pengoperasian kereta diesel sama dengan kereta api listrik. Bedanya, saat ingin menyalakan kereta diesel, kita harus menuju ruang mesin pada lokomotif diesel. Sedangkan untuk KRD (Kereta Rel Diesel), cukup menyalakan dari bawah tempat duduk.
Di dalam ruang mesin, biasanya di dekat girboks, terdapat sebuah tuas, seperti tuas pada kompor untuk menyalakan lokomotif diesel. Pertama-tama, kita harus memutar tuas ke kiri untuk memasukkan bahan bakar HSD (High Speed Diesel) ke dalam mesin. Kegiatan ini disebut priming.
Setelah priming selesai, akan terdengar bunyi klik yang tandanya HSD sudah penuh di dalam lokomotif. Langkah selanjutnya adalah memutar tuas ke kanan untuk menyalakan mesin, dan selesai.
Kedua, di dalam sebuah lokomotif diesel terdapat dynamic brake. Jenis rem yang satu ini hanya berguna untuk mengurangi putaran mesin di saat turunan. Cara keja dynamic brake hampir sama dengan cara kerja dynamic brake pada truk dan bus.
Tenaga uap
Dalam Kabin Lokomotif DSM 28
Kereta api yang menggunakan tenaga uap sama sekali berbead pengoperasiannya dengan kedua jenis kereta api sebelumnya. Untuk menyalakannya, kita harus merebus air yang ada di dalam tungku untuk menghasilkan uap. Makin besar lokomotifnya makin lama merebusnya, tergantung besarnya cawan pemanas. Rata-rata dibutuhkan waktu 4-10 jam untuk merebus air dalam tungku.
Jika air sudah cukup panas dan mendidih menghasilkan uap, maka lokomotif siap dijalankan. Pertama, putar reverser. Untuk mengetahui kemanakah reverser ini bergerak, maka biasanya terdapat reverser plate untuk mengetahui apakah kita menggerakkan reverser ke arah yang benar.
Setelah selesai menggerakkan reverser, maka lepaslah semua brake.
Setelah melepas brake, maka kita harus menggerakkan regulator (ditandai dengan warna biru pada foto). Perlu diingat bahwa dalam membuka regulator cukup sedikit saja, agar silinder tidak mudah dingin. Sebelum kereta api bergerak dengan cepat, segera tutup cylinder cocks (ditandai dengan warna kelabu pada foto) agar tekanan uap tidak cepat berkurang. Cylinder cocks hanya boleh dibuka pada saat kereta berhenti agar embun dalam silinder dapat keluar. Jika embun tetap di dalam, maka akan menyumbat katup silinder dan membuat lokomotif mengalami fatal blowback atau ledakan.
Foto Kabin Lokomotif D 52
Untuk mengurangi kecepatan atau menghentikan kereta api, cukup kurangi throttle/regulator hingga nol dan putar rem ke arah kanan berulang-ulang. Namun perlu diingat, dalam keadaan darurat, emergency brake harus aktif atau putar train brake ke arah kanan sampai mentok.

5 komentar:

samino sughita Sabtu, 05 Mei 2012 09.02.00 WIB  

Good.... udah saya pasang linknya. Gantian pasang ya....

enallzznotasiband Selasa, 09 Oktober 2012 11.11.00 WIB  

apakah kereta mempunyai gig seperti mboil atau motor ?

Muhammad Hamas Fathani Sabtu, 20 Oktober 2012 11.10.00 WIB  
Komentar ini telah dihapus oleh penulis.
Muhammad Hamas Fathani Sabtu, 20 Oktober 2012 11.11.00 WIB  

Di Indonesia, lokomotif diesel, uap ataupun listrik tidak memiliki sistem percepatan. Kecuali pada KRD MCW 301/302 yang ketika diciptakan untuk membatasi kecepatan. Gir pertama untuk kecepatan maks. 40 km/jam dan gir kedua untuk kecepatan maks. 72 km/jam.

Kunjungilah lain waktu agar mendapat informasi lain yang lebih menarik!